Oleh: Siti Nurhayati | 12 Mei 2010

Obat Parkinson Bikin Kecanduan Seks

Obat Parkinson Bikin Kecanduan Seks

AN Uyung Pramudiarja – detikHealth


Philadelphia, Beberapa obat parkinson bekerja dengan cara memacu kerja dopamin. Sebuah penelitian mengungkap, efek samping obat-obat semacam itu adalah memicu perilaku kompulsif (dorongan yang terus menerus) termasuk kecanduan judi dan seks.

Parkinson merupakan penyakit degeneratif (kemunduran fungsi) yang ditandai dengan adanya tremor (gemetar yang tidak terkontrol) pada pergerakan dan kekakuan otot. Dalam kasus tertentu disebabkan oleh toksin, kepala terluka, dan obat-obatan.

Dikutip dari Telegraph, Rabu (12/5/2010), penelitian yang dilakukan oleh tim dari University of Pennsylvania ini mengamati lebih dari 3.000 penyandang parkinson di AS dan Kanada yang mendapat pengobatan secara rutin dengan Levodopa. Hasilnya, 13,6 persen di antaranya mengalami gangguan kontrol impulsif atau impulse control disorder (bertindak tiba-tiba).

Gangguan tersebut meliputi kecanduan berjudi (5 persen), keinginan belanja yang tak terkontrol atau compulsive buying (5,7 persen), dan makan berlebihan atau binge-eating (4,3 persen). Yang mengejutkan, kecanduan seks juga dialami oleh 3,5 persen partisipan.

Menurut peneliti, gangguan kontrol impulsif merupakan efek samping dari beberapa jenis obat untuk penyandang parkinson. Obat-obat tersebut berfungsi sebagai agonis (pemacu), yang menstimulasi kerja dopamin.

Dopamin merupakan neurotransmiter (saraf pembawa pesan) di otak yang berfungsi untuk mengantarkan pesan, khususnya yang mengatur gerakan-gerakan halus dan terkoordinasi. Pada penyandang parkinson, fungsi dopamin menurun sehingga terjadi tremor (gemetar yang tidak terkontrol) dan kekakuan otot.

Di sisi lain, dopamin juga bertanggung jawab terhadap perilaku yang bersifat adiktif dan kompulsif (didasari oleh dorongan yang terus menerus). Menurut hasil penelitian tersebut, hal inilah yang kemudian memicu kecanduan seks ketika fungsi dopamin dipacu dengan obat-obat parkinson.

Dr Daniel Weintraub yang memimpin penelitian tersebut menyimpulkan, penggunaan obat-obat agonis dopamin meningkatkan risiko gangguan kontrol impulsif sebesar 2 hingga 3,5 kali lipat. Untuk itu ia menyarankan adanya penelitian lebih lanjut.

“Terdapat hubungan yang cukup kompleks dengan variabel klinik dan demografi yang lain, sehingga butuh investigasi lebih lanjut untuk mengoptimalkan upaya pencegahan dan stretegi penanganan,” ungkapnya.

Selain untuk parkinson, obat yang berfungsi sebagai agonis dopamin juga dipakai untuk mengatasi beberapa gangguan penyakit lainnya. Termasuk di antaranya adalah sindrom kaki gelisah (restless leg syndrome) serta fibromyalgia (kondisi yang menyebabkan nyeri, kekakuan, dan kepekaan dari otot-otot, tendon-tendon, dan sendi-sendi).

Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Archives of Neurology.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: