Oleh: Siti Nurhayati | 10 Juli 2010

Kisah Dua Ekor Katak

Kisah Dua Ekor Katak

T.C.HAMETT bertutur tentang kisah dua ekor katak,Dua katak jatuh ke dalam sekaleng es krim.Sisi-sisi kaleng mengkilap dan curam,sedangkan krimnya begitu dalam dan dingin.
“Oh,bagaimana ini?” kata katak yang pertama.
“Ini takdir,tidak ada pertolongan.Selamat tinggal,sahabatku! Selamat tinggal,dunia yang menyedihkan!” ungkapnya lagi sambil menangis dan akhirnya tenggelam.
Akan tetapi,katak ke dua yang juga terjatuh ke dalam sekaleng es krim itu langsung itu mengayuhkan kakinya untuk berenang.Sesaat dia menyeka wajah dan mengeringkan matanya yang penuh krim.
“Paling tidak,aku akan berenang sejenak,”katanya.”Tidak akan membantu dunia,jika satu katak mati.”
Satu atau dua jam dia menendang dan berenang,tidak sekalipun dia berhenti untuk mengeluh.Tetapi terus menendang dan berenang serta berenang.Kayuhan
kaki si katak kedua ini,akhirnya membuat es krim yang ada di dalam kaleng tersebut lambat laun mulai mengeras.Setelah es krim itu mulai berubah seperti mentega,katak itu pun lalu melompat.
Satu hal yang membedakan dua katak dalam kisah di atas adalah cara pandang mereka terhadap dunia di sekelilingnya dan bagaimana mereka terhadap dunia di sekelilingnya dan bagaimana mereka bersikap terhadap hambatan yang terjadi.Salah satu unsur penting yang kita perlukkan untuk memecahkan masalah-masalah yang ada di sekitar kita,baik itu pekerjaan,masalah keluarga,maupun problema pribadi adalah bagaimana kita memandang masalah tersebut.
Cara pandang ini sangat dipengaruhi oleh informasi apa yang selama ini,secara terus-menerus,masukke dalam pikiran kita.jika selama ini informasi yang masuk ke dalam pikiran,baik melalui bacaan,obrolan,perenungan maupun tontonan adalah hal-hal yang sifatnya memotivasi diri,maka orang tersebut cenderung untuk mengambil hikmah terhadap permasalahan yang terjadi sehingga membuatnya lebih optimis.lain halnya jika masuk ke dalam pikiran adalah informasi-informasi yang cenderung melemahkan diri,informasi negative tentang orang lain,bacaan yang didominasi roman picisan,dan lain sebagainya.Hal ini tentu akan sangat mempengaruhi dirinya untuk memandang secara optimis terhadap permasalahan yang terjadi.Itulah sebabnya seorang pakar NLP(Neuro linguistic programming) dalam hal ini pernah mengemukakan satu peringatan keras:”Awasi pikirammu!”
Bila kita tela’ah lebih dalam,sesungguhnya hanya lewat cara pandang yang positif seseorang dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik atau tidak.Orang yang memiliki cara pandang positif pada umumnya sangat alergi dengan urusan pamrih atau imbalan.baginya,menyelesaikan pekerjaan adalah the way of life (cara hidup) bukan how to life (bagaimana hidup).Mereka yang memiliki cara pandang demikian,apa pun tugas atau pekerjaan yang diberikan kepadanya akan diyakini sebagai amanah yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh.Mereka memiliki cara pandang tersendiri terhadap dunia di sekelilingnya sehingga tidak berharap orang lain perlu dan harus memandangnya.Bagi mereka,menyelesaikan pekerjaan bukan untuk meraih bendera kemenangan atau meraih kedudukan tertentu.

Terima kasih atas kunjungannya Wassalam : smaslah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: